Kawasan Punguk Merbuk Kenari Kembali Ditambang, Warga Berok Tolak Keras

Kamis 04-04-2024,21:27 WIB
Reporter : Yandi
Editor : Govin

BABELPOS.ID, KOBA - Masyarakat Kelurahan Berok, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) yang terdiri dari tokoh adat, masyarakat, agama, kaling dan RT sambangi Kantor Lurah Berok untuk menyampaikan aspirasi terkait penambangan liar di kawasan Punguk-Kenari-Merbuk.

Diketahui, warga ini resah karena adanya aktivitas tambang ilegal yang dilakukan masyarakat luar Berok di daerah Merbuk-Kenari-Punguk (bekas tambang eks PT. Kobatin-red) yang terdaftar sebagai wilayah pemukiman dan bukan wilayah penambangan.

BACA JUGA:Suami Tersangka Tipikor Timah, Sandra Dewi Diperiksa Urusan Rekening

Salah satu warga Berok, Surya mengungkapkan puluhan masyarakat ini datang ke Kantor Lurah Berok, karena ingin menyampaikan aspirasi terkait tambang ilegal yang berdampak besar terhadap masyarakat.

"Pertama itu adalah wilayah pemukiman dan belum dinyatakan wilayah penambangan. Kedua ini daerah aliran sungai, yang artinya mencemari sumber mata air kami dan bisa menyebabkan banjir, karena pendangkalan tambang," ujarnya, Kamis (4/4/2024).

BACA JUGA:Safari Ramadan, Setiap Desa di Bangka Tengah Terima 20 Paket Sembako

"Ketiga, yang nambang orang luar dan tidak ada dilihat kerusakan lingkungannya. Apalagi ini kita lagi gencar pemulihan pasca korupsi tambang, karena setiap penambangan ilegal uangnya tidak masuk ke negara. Ini menghina kami masyarakat Berok," tambahnya.

Ia menegaskan, masyarakat menolak adanya aktivitas tambang ilegal yang ada di wilayah Berok atau di wilayah Punguk-Kenari-Merbuk, apalagi yang mengerjakan orang luar.

BACA JUGA:Hapuskan Stereotip

"Ini sudah meresahkan, dan memicu kemarahan masyarakat. Maka dari itu kami meminta Lurah Berok bersama Aparat Penegak Hukum segera menindak adanya tambang ilegal di Merbuk-Kenari-Punguk itu. Dampak sosial, lingkungan dan dampak negatif lainnya sangat terasa," tegasnya.

"Tadinya kami ratusan warga Berok langsung mau kesana bongkar paksa ponton-ponton ilegal itu. Tapi, kami tidak mau anarkis jadi tetap sesuai prosedur," sambungnya.

Ia berharap, Pemerintah dan APH segera menindak lanjuti aspirasi mereka.

BACA JUGA:Hapuskan Stereotip

Sementara itu, Lurah Berok, Teguh sempat terkejut dengan kedatangan para kaling, tokoh adat, tokoh masyarakat dan masyarakat ke kantornya.

"Saya lagi ngurusin dokumen dan pelayanan serta pembagian beras, tiba-tiba datang masyarakat dan ternyata ingin menyampaikan aspirasi tentang tambang ilegal yang ada di Merbuk -Kenari-Punguk," jelasnya.

Kategori :