Yayasan Anambas Beri Pelatihan Ecoprint dan Pendidikan Konservasi Laut Bagi Perempuan Pesisir

Yayasan Anambas Beri Pelatihan Ecoprint dan Pendidikan Konservasi Laut Bagi Perempuan Pesisir

ANTUSIAS: Perempuan Desa Telaga belajar membatik dengan memanfaatkan pewarna natural yang diekstrak secara bijak dari kulit batang mangrove. Kegiatan ini digelar oleh Yayasan Anambas melalui program Women in Marine Conservation. --

BABELPOS.ID - PEREMPUAN pesisir yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan di garis pantai kini diberi akses baru untuk belajar konservasi laut sekaligus mengembangkan keterampilan ekonomi.

Yayasan Anambas meluncurkan program Women in Marine Conservation untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tentang kelautan dan membuka peluang wirausaha berkelanjutan bagi perempuan desa.

Melalui program yang didukung PLAN International Indonesia (Youth Leadership Academy Seed Grant) dan East-West Center Small Grant, Yayasan Anambas menghadirkan pelatihan yang menggabungkan edukasi konservasi dengan praktik keterampilan bernilai jual, seperti membatik dan teknik Ecoprint.

BACA JUGA:Jelang Akhir Tahun 2025, PT Timah Tbk Gelar Penandatanganan Kontrak Batangan Timah dan Ekspor Akhir Tahun

Uniknya, pelatihan membatik dan ecoprint yang diberikan tidak menggunakan pewarna tekstil sintetis.

Peserta dilatih memanfaatkan pewarna natural yang diekstrak secara bijak dari kulit batang mangrove terutama jenis nyirih (Xylocarpus granatum) dan bakau (Rhizophora sp.) tanpa menebang pohon.

Teknik ini menghasilkan warna coklat alami dan ramah lingkungan, sekaligus menjaga kelestarian mangrove sebagai penyangga pesisir.

“Saya bersyukur bisa ikut latihan ecoprint bersama Yayasan Anambas karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah,” ujar Lindawati (50), warga Desa Telaga, Kecamatan Siantan Selatan.

Produk yang dihasilkan kemudian dijahit menjadi barang yang dapat dipasarkan oleh perempuan di Desa Kiabu, dengan bahan kain organik yang didapat lewat kerja sama selektif misalnya pemanfaatan kain linen bekas dari mitra perhotelan.

BACA JUGA:Kejati Babel Selamatkan Kerugian Keuangan Negara Rp 10 Miliar

“Kami tidak berfokus pada angka, acuan kami adalah peningkatan peran perempuan dalam konservasi.

Perempuan umumnya memang tidak memancing dan tidak secara langsung bersentuhan dengan laut, tapi perannya dalam konservasi harus selalu ada,” kata Afifa, staf konservasi Yayasan Anambas.

Desa Telaga dipilih karena sejak 2023 telah berjalan program rehabilitasi karang dan pemberdayaan pemuda dalam konservasi sehingga partisipasi perempuan menjadi kelanjutan yang strategis.

Upaya restorasi terumbu karang di Desa Kiabu dan Desa Telaga telah berhasil memulihkan sekitar 3.300 meter persegi area karang, meski masih terdapat 17.800 meter persegi wilayah rusak yang menunggu pemulihan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: