Sehatkah Kita?

Sehatkah Kita?

--

MASIH sehatkah kita, ketika 'kemauan kita' melanggar aturan, maka aturannyalah yang dirubah?

Oleh: Syahril Sahidir

CEO Babel Pos Grup

ITULAH yang tengah menghangat di negeri ini sekarang.

Sebenarnya tidak menjadi persoalan, gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) itu jika dilakukan jauh-jauh sebelum hajat menjelang Pilpres seperti sekarang ini.  Misalnya, 2 atau 3 tahun sebelumnya.  Dan yang digugat memang benar-benar menyangkut usia.  Misalnya, digugat agar minimal 35 tahun.  Dengan harapan dan anggapan usia 35 tahun sudah dinilai matang, dan diutamakan atau dengan syarat pernah atau tengah menjadi kepala daerah.

Masalahnya sekarang ini, dikabulkannya gugatan di MK itu berbarengan dengan Pilpres dan Hakim MK adalah sang paman sendiri?  

BACA JUGA:Megawati Negarawan Sejati

Lebih ironis lagi, ketika sang junjungan ditanya, dengan ringannya berucap itu si anak sudah dewasa sudah bisa menentukan sikap sendiri.  Dan yang memilih adalah rakyat.

***

LEBIH hebat lagi saat ini, ada pula seorang menteri yang masih muda usia dengan penuh semangat seolah pasang badan, dan menyatakan baru satu saja pemuda dari daerah itu muncul sudah geger negeri ini.  

BACA JUGA:Jokowi Effect

Dan dengan gagahnya sang menteri menyatakan, bahwa soal isu penundaan Pemilu dialah yang mencetuskan?  

Padahal saat isu ini berkembang sederet menteri, petinggi negara, MPR, DPR, bahkan yang tengah ikut mencalonkan diri sekarang ini pun ada yang sempat ikut mendukung dan mencetuskan ini.  

Hadeh, begitu hebatnya mau pasang badan padahal isu itu berkembang sedemikian rupa?  Hanya persoalannya saat itu n--dan ini untungnya--, memang partai besar dan yang tengah berkuasa tak mendukung ketika itu.  Kalau partai besar itu menyatakan mendukung, mungkin selesai la sudah, dan rakyat hanya menonton kalau tidak unjuk rasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: