Purwaceng Dieng, Warisan Lokal Bernilai Ekonomi

Purwaceng Dieng, Warisan Lokal Bernilai Ekonomi

Purwaceng : Tanaman herbal endemik asal dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.--

Dalam pemanfaatannya, bagian yang digunakan antara lain akar dan daun.

Saat ini, MPIG Purwaceng memiliki sekitar 50–60 anggota aktif, menurun dibandingkan jumlah sebelumnya yang mencapai sekitar 300 anggota.  

BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Babel Dorong Inovasi Daerah Melalui Edukasi dan Diseminasi Kekayaan Intelektual Paten

Menurut Uswatun, salah satu tantangan dalam mempertahankan budidaya purwaceng adalah aspek ekonomi.

Petani harus menunggu cukup lama hingga masa panen, sementara terdapat pilihan tanaman lain yang secara ekonomi dapat memberikan hasil lebih cepat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan budidaya purwaceng di kawasan Dieng. 

Dari sisi nilai ekonomi, Uswatun menyebut sekitar 12 kilogram purwaceng basah dapat menghasilkan satu kilogram purwaceng kering.

Harga purwaceng kering disebut mencapai sekitar Rp1,2 juta per kilogram, sedangkan harga purwaceng basah dari petani berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. 

BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Babel Dampingi Pemeriksaan Substantif IG Jamur Pelawan Namang

Pelindungan kekayaan intelektual menjadi penting untuk menjaga hubungan antara purwaceng, wilayah Dieng, dan masyarakat yang mempertahankan pengetahuan serta praktik budidayanya.

Melalui indikasi geografis, karakteristik dan reputasi produk dapat dijaga sekaligus dikembangkan menjadi nilai tambah bagi masyarakat asalnya.

Penguatan pelindungan tersebut perlu berjalan bersama dengan konsistensi kualitas, kelembagaan masyarakat, dan keberlanjutan produksi.

BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Babel Pantau Pelaksanaan SKD CAT Seleksi Kedinasan Politeknik Pengayoman Indonesia Tahun 2026

Kini, selain dimanfaatkan sebagai produk yang siap dijual, Purwaceng juga dapat juga ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman wisata yang diramu menjadi program Geographical Indication (GI) Tourism.

Wisatawan dapat mengenali produk sekaligus cerita dan pengetahuan masyarakat yang melekat pada tanaman tersebut dalam rangkaian perjalanan yang dinamakan “Telusur Purwaceng dan Legendanya”.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait