MEMBACA dan menulis merupakan dua keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap siswa. Keduanya bukan hanya menjadi bagian dari kegiatan belajar di sekolah, tetapi juga merupakan bekal untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui membaca, siswa dapat memperoleh pengetahuan dan memperluas wawasan. Sementara itu, melalui menulis, mereka dapat menuangkan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta menyampaikan pendapat dan perasaan.
Namun, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis di kalangan pelajar bukanlah perkara yang mudah.
BACA JUGA:Keterampilan Membaca dan Menulis: Fondasi dalam Upaya Membangun Karakter Siswa
Saat ini, banyak siswa lebih tertarik menghabiskan waktu dengan bermain gim daring, menonton video, atau menjelajahi media sosial dibandingkan membaca buku. Padahal, seyogianya teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendekatkan siswa dengan dunia literasi.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana orang tua, guru, dan lingkungan sekolah mampu mengajak siswa menjadikan membaca dan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban.
Chairil Anwar, dikenal sebagai salah satu pelopor puisi modern Indonesia. Sejak remaja, ia sudah gemar membaca buku-buku sastra, termasuk karya penulis asing. Ia bahkan mempelajari bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman agar dapat membaca karya sastra dunia.
Selain Chairil, ada Pramoedya Ananta Toer, yang merupakan salah satu sastrawan Indonesia. Karyanya dikenal hingga ke berbagai negara. Ia mulai menulis sejak duduk di sekolah dasar, sekitar kelas lima.
Membaca sebagai Jendela Pengetahuan
Membaca merupakan salah satu cara paling sederhana untuk mengenal dunia. Dengan membaca, maka siswa dapat mengetahui berbagai hal yang mungkin belum pernah mereka temui secara langsung. Buku cerita, majalah, komik, maupun bacaan digital dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus sarana untuk mengembangkan imajinasi.
BACA JUGA:Pegiat Literasi dan Tantangan Menulis
Kebiasaan membaca juga membantu siswa memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan memahami informasi, serta melatih daya pikir kritis. Siswa yang terbiasa membaca akan lebih mudah mengenali berbagai sudut pandang. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan, terutama ketika mereka berhadapan dengan beragam informasi yang beredar di internet.
Untuk menumbuhkan kegemaran membaca, sekolah perlu menghadirkan suasana yang mendukung. Perpustakaan hendaknya tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman dan menarik untuk dikunjungi. Guru dapat mengajak siswa membaca buku pilihan selama 10 hingga 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan sederhana ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan membaca.
Selain itu, siswa sebaiknya diberi kebebasan memilih bahan bacaan sesuai minat mereka. Tidak semua siswa menyukai buku pelajaran atau bacaan yang berat. Ada yang menyukai cerita petualangan, biografi tokoh, komik edukatif, atau artikel tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika siswa menemukan bacaan yang sesuai dengan ketertarikannya, membaca akan terasa lebih menyenangkan.