BABELPOS.ID, TOBOALI - Awan hitam dengan hembusan angin kuat di Desa Penutuk, membuat dada Iwan (45) selalu ikut sesak.
Hujan deras bukan hanya tentang dinginnya malam di Pulau Lepar, tetapi tentang ember-ember yang harus dipindahkan, anak yang digeser menjauh dari tetesan air, dan dinding kayu lapuk yang berderit diterpa angin laut.
BACA JUGA:TMMD di Kepulauan Lepar, Merajut Asa dan Pelayanan ke Masyarakat
Rumah itu nyaris roboh, atapnya bocor di banyak titik.
Lantainya lembap dan tak lagi rata.
Jika angin kencang datang dari laut, dinding rumah bergetar seperti tak sanggup bertahan lebih lama.
Di sanalah Iwan membesarkan keluarganya, menyimpan harapan sekaligus menahan cemas setiap musim hujan tiba.
Namun, ketakutan itu perlahan memudar, seiring puluhan pria dengan seragam loreng mulai merobohkan bahkan mencabut kayu kayu rapuh itu dengan serius.
BACA JUGA:TMMD Pulau Lepar, Pemasangan Titik Beton Drainase, Pengeboran Air Bersih Hingga Renovasi RTLH
Mengalir perlahan sebuah air tampak di wajah Iwan dan keluarganya, rumah usang itu kini sudah tak tampak lagi bentuknya.
Perlahan nan pasti, batu, semen, kayu, asbes bersusun rapi, anehnya, pria pria berseragam loreng ini secara ikhlas kembali mendirikan rumah usang itu.
Padahal mungkin tak layak dikatakan hunian, sudah rapuh, reot, berdecit keras ketika dihantam angin, tetesan air mengalir seiring derasnya hujan, yang akhirnya tertampung di wadah seadanya.
BACA JUGA:TMMD di Desa Penutuk Sudah Sampai Tahapan Pemadatan Jalan Untuk Pengerjaan Fisik
Pelan dan pasti, tak lagi khawatir ketika hujan deras dengan tetesan air memenuhi rumah, tak lagi mendengar bunyian derit kayu yang saling menjaga satu sama lain agar tak tumbang.
Kini Iwan hanya bisa bersyukur dengan keluarga kecilnya menjadi lebih aman tanpa takut adanya tetesan air memasuki rumah dan angin Sepoi sepoi nan kuat.