BABELPOS.ID, SUNGAILIAT - Penjabat (Pj) Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Suganda Pandapotan Pasaribu mendorong transisi PAUD ke SD yang menyenangkan sudah terlaksana dengan baik. Ia berharap, adanya transisi ini sudah diikuti dengan proses belajar-mengajar.
Hal itu disampaikannya, Kamis (26/10/2023) saat menghadiri Open House dan Sosialisasi Gerakan Transisi Pendidikan TK ke SD yang Menyenangkan di SLB Negeri Sungailiat, Kabupaten Bangka.
"Usia 1-12 tahun merupakan fase terpenting dalam membentuk kepribadian anak, sehingga transisi PAUD ke SD ini merupakan hal yang penting dan telah diimplementasikan pada proses pembelajaran," tuturnya.
BACA JUGA:Sudah Terima 2.220 Bilik, KPU Basel Tinggal Tunggu Surat Suara
Dikatakan Pj Gubernur Suganda, transisi PAUD ke SD yang dilakukan oleh Bunda PAUD ini merupakan langkah-langkah strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Dirinya juga menambahkan pentingnya menciptakan transisi PAUD ke SD agar dibuat menyenangkan sesuai arahan Kemenristekdikti. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak mengalami culture shock.
BACA JUGA:Sudah Terima 2.220 Bilik, KPU Basel Tinggal Tunggu Surat Suara
"Sehingga kedepannya kita mampu memanfaatkan bonus demografi mempersiapkan generasi penerus Babel untuk Indonesia Emas 2045," tuturnya.
Sementara itu, Pj Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Provinsi Kepulauan Babel, Maya Suganda Pasaribu menyampaikan, saat ini kemampuan yang dibangun pada anak di PAUD masih sangat berfokus pada calistung.
BACA JUGA:Puluhan Massa Gelar Aksi di Kantor Bupati Bateng: Kenapa Era Susanto Belum Dilantik Jadi Wabup?
"Saat ini, tes calistung masih diterapkan sebagai syarat masuk SD dan kemampuan calistung dianggap sebagai satu-satunya bukti keberhasilan belajar dan dibangun secara instan," ujar Maya.
Untuk mengakhiri miskonsepsi tersebut, Maya menyampaikan empat fokus yang perlu dilakukan dalam pembelajaran. Pertama, satuan pendidikan perlu menghilangkan tes calistung dari proses penerimaan peserta didik baru di SD.
Kedua, Satuan pendidikan perlu menerapkan masa perkenalan bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama. Ketiga, satuan pendidikan perlu menerapkan pembelajaran yang membangun enam kemampuan fondasi anak.
"Yaitu mengenalkan nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, kematangan kognitif, pengembangan keterampilan motorik dan pemaknaan terhadap belajar yang positif," ungkapnya.