Seminar Nasional ​BKS, Rektor UBB: Jangan Hanya Jadi Diskusi Formal

Seminar Nasional ​BKS, Rektor UBB: Jangan Hanya Jadi Diskusi Formal

Seminar Nasional dan Rapat Kerja Badan Kerjasama (BKS) Dekan Fakultas Hukum PTN Se-Wilayah Barat, 16–18 Juli 2026.--

BABELPOS.ID, PANGKALPINANG – Universitas Bangka Belitung (UBB) resmi menjadi tuan rumah Seminar Nasional dan Rapat Kerja Badan Kerjasama (BKS) Dekan Fakultas Hukum PTN Se-Wilayah Barat.

Berlangsung pada 16–18 Juli 2026, forum ini membedah urgensi penguatan hukum lingkungan di tengah dinamika transisi energi.

​Rektor UBB, Prof. Ibrahim, menekankan bahwa pertemuan 21 dekan dari berbagai perguruan tinggi ini harus menghasilkan output nyata, baik berupa karya ilmiah maupun kebijakan strategis.

Ia secara khusus menyoroti kondisi di Bangka Belitung yang saat ini tengah menghadapi masalah kelangkaan BBM, sebuah fenomena yang menurutnya merepresentasikan tantangan transisi energi yang belum tuntas.

BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Babel Monitoring Pelaksanaan Bantuan Hukum pada LBH Al-Hakim dan LBH KUBI

​"Sebagai daerah tambang, Bangka Belitung adalah laboratorium keilmuan yang nyata.

Kami berharap forum ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan terobosan hukum untuk memperbaiki tata kelola pertambangan," tegas Prof. Ibrahim.

​Di sisi lain, Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin—yang diwakili oleh Asisten II Juhaini Saleh—menegaskan komitmen daerahnya.

Meski Pangkalpinang berstatus zero tambang, kebijakan kota tetap difokuskan pada mitigasi bencana mengingat kondisi topografi kota yang cekung dengan indeks kerentanan 0,28.

BACA JUGA:Kompos Lapas Pangkalpinang Kembangkan Sayap di Pulau Belitung

​Wali Kota menyampaikan pesan penting bahwa keberlanjutan adalah tanggung jawab kolektif.

Pangkalpinang memposisikan diri sebagai kota yang mengedepankan tata kelola cerdas, kolaboratif, dan berkelanjutan, sebagai model bagi daerah lain.


Selain agenda seminar di Swiss-Belhotel, para peserta dijadwalkan mengikuti workshop di Pantai Parai Tenggiri.

Rektor UBB berharap sesi ini dapat mempererat solidaritas antar-akademisi, sekaligus memberikan perspektif mengenai harmoni antara menjaga kelestarian alam dan tantangan pembangunan di daerah pascatambang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: