Biofuel: Jawaban Bagi Rapuhnya Energi Fosil Nasional

Biofuel: Jawaban Bagi Rapuhnya Energi Fosil Nasional

Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025). --(Foto: Ant)

BABELPOS.ID, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global kembali menegaskan realitas ketergantungan dunia pada energi fosil. Kondisi ini mengakibatkan kerentanan ekonomi dan gejolak geopolitik.

Konflik di Timur Tengah membuktikan, dengan adanya gangguan rantai pasok energi global, kondisi banyak negara tergoncang dalam bentuk inflasi, tekanan fiskal, dan beban subsidi energi.

Indonesia bukan pengecualian. Sebagai negara dengan konsumsi energi yang terus meningkat, kebutuhan BBM nasional masih belum sepenuhnya ditopang produksi dalam negeri. Pada 2025, konsumsi BBM Indonesia diperkirakan telah melampaui 80 juta kiloliter, sementara produksi minyak domestik terus menurun dan berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kesenjangan ini menjadikan impor sebagai konsekuensi yang tak terelakkan, sekaligus menjadi sumber kerentanan.

Dalam konteks inilah, pertanyaan mengenai kemampuan negara untuk mandiri energi menjadi relevan, khususnya melalui program biodiesel dan bioethanol, seperti yang dicetuskan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kemandirian teruji

Keberhasilan program biodiesel Indonesia merupakan salah satu contoh paling konkret transformasi energi berbasis sumber daya domestik. Kebijakan mandatori campuran biodiesel yang berkembang dari B20, B30, hingga B35 dan B40 telah menunjukkan hasil yang terukur dan signifikan.

Pada 2025, penyaluran biodiesel diproyeksikan melampaui 13,5 juta kiloliter, meningkat dari tahun sebelumnya. Dampaknya bukan hanya pada substitusi energi, tetapi juga pada penghematan devisa. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa program biodiesel mampu menghemat devisa, hingga lebih dari Rp140 triliun per tahun, dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih jauh, program ini secara langsung menekan impor solar. Dalam jangka menengah, pemerintah, bahkan menargetkan penghentian impor solar seiring peningkatan bauran biodiesel hingga B50. Target ini bukan utopis, melainkan berbasis pada kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku yang dimiliki Indonesia.

Di sinilah keunggulan struktural Indonesia terlihat jelas. Sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, dengan produksi lebih dari 50 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun, Indonesia memiliki pasokan bahan baku yang relatif stabil. Transformasi sebagian CPO menjadi biodiesel telah menggeser peran sawit dari sekadar komoditas ekspor menjadi pilar strategis ketahanan energi nasional.

Efek berganda dari kebijakan ini juga tidak kecil. Lebih dari 16 juta tenaga kerja bergantung pada sektor sawit, baik langsung maupun tidak langsung. Dengan memperluas pemanfaatan domestik melalui biodiesel, stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani ikut terjaga. Dengan demikian, biodiesel bukan hanya kebijakan energi, tetapi juga instrumen pemerataan ekonomi.

Dalam perspektif ini, biodiesel telah menjawab sebagian besar keraguan yang mampu menggantikan sebagian BBM fosil, mengurangi tekanan impor, sekaligus memperkuat ekonomi domestik.

BACA JUGA:Zulhas: Kopdes Merah Putih sebagai Infrastruktur Ekonomi Desa

BACA JUGA:1,3 GW PLTS Atap untuk Percepat Transisi Energi

Peluang besar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: