Manfaatkan Potensi Mangrove, PHE OSES dan Pemuda Belitung Timur Perkuat Ekonomi

Manfaatkan Potensi Mangrove, PHE OSES dan Pemuda Belitung Timur Perkuat Ekonomi

Peserta Bimbingan Teknis Usaha Pemanfaatan Kawasan Perhutanan Sosial, yang terdiri dari 15 perwakilan kelompok pengelola perhutanan sosial--

BELITUNG TIMUR — Di antara rimbunnya mangrove yang menjaga pesisir Belitung Timur, tersimpan potensi yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Ekosistem ini bukan hanya benteng alami yang melindungi kawasan pesisir, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara bijaksana.

Melalui kolaborasi dengan Koalisi Pegiat Lingkungan Pulau Belitong (KPLPB), PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) mendorong masyarakat untuk mengenali dan mengoptimalkan potensi tersebut melalui program Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pesisir Belitung Timur, salah satunya melalui usaha penggemukan kepiting bakau.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis Usaha Pemanfaatan Kawasan Perhutanan Sosial bertema “Optimalisasi Potensi Pemanfaatan Kawasan Pesisir Belitung Timur melalui Kelompok Perhutanan Sosial (KPS)” dengan subtema “Usaha Penggemukan Kepiting Bakau Berbasis Pemberdayaan Komunitas”.

Kegiatan berlangsung di Guest Hotel, Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Selasa (6/10), dan diikuti 15 kelompok perhutanan sosial yang memiliki area kelola mangrove di Belitung Timur.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi kelompok perhutanan sosial untuk memperluas pengetahuan, bertukar pengalaman, dan menemukan peluang usaha yang sesuai dengan karakteristik kawasan kelola masing-masing.

Melalui pembekalan teknis dan pembelajaran dari praktik yang telah berjalan, peserta diperkenalkan pada usaha penggemukan kepiting bakau sebagai salah satu alternatif kegiatan ekonomi yang berpotensi mendukung pendapatan masyarakat, dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Ketua KPLPB, Teblyandi S.AB, menyampaikan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Menurutnya, kawasan mangrove memiliki nilai yang lebih luas ketika dikelola secara tepat, tidak hanya bagi keberlangsungan ekosistem, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

“Potensi kawasan mangrove dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat, tentunya dengan tetap memperhatikan aturan dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi pengalaman sekaligus membuka wawasan kelompok perhutanan sosial mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari kawasan kelola mereka,” kata Teblyandi.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (UPTD KPHP) Gunung Duren, yang berperan dalam pembinaan dan fasilitasi teknis pengelolaan kawasan perhutanan sosial.

Kegiatan dibuka oleh Kepala KPHP Gunung Duren, Jookie Vebriansyah, S.Kom. Selanjutnya, Dedy Ilhamsyah, S.Ikom, Kepala KPHP Belantu Mendanau, yang juga seorang tokoh penggerak perhutanan sosial nasional, menyampaikan materi mengenai tata kelola kawasan serta upaya mengoptimalkan potensi yang tersedia di masing-masing area kelola.

Para peserta juga memperoleh pemahaman mengenai ketentuan pemanfaatan kawasan perhutanan sosial, termasuk peluang pengembangan usaha penggemukan kepiting bakau di kawasan mangrove melalui pendekatan silvofishery.

Materi teknis dilanjutkan oleh Kepala Bagian PUKPPI Dinas Perikanan Kabupaten Belitung Timur, Tatan, S.St.Pi, yang menjelaskan metode pengembangan usaha kepiting bakau, antara lain melalui sistem keramba tancap dan sistem apartemen.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: